indonesian | english
a | a
webershandwick asia pacific



 












Food Forward Trends: Tren Makanan di Asia Pasifik by Billy Chailani
 
   
 
   



Hari ini, Weber Shandwick meluncurkan laporan Weber Shandwick’s Asia Pacific Food Forward Trends Report II guna membahas tren makanan terbesar di empat negara Asia Pasifik – Australia, China, Korea, dan Singapura.

Laporan ini mengungkap beberapa tren di empat negara – Australia, China, Korea, dan Singapura – yang memberikan wawasan bagaimana brand makanan dan retailers dapat merangkul penduduk lebih baik, termasuk:

  1. dampak media sosial terhadap pengetahuan, wawasan, dan kepercayaan diri dalam memasak;

  2. pertumbuhan yang lambat tapi stabil terhadap online shopping di sektor bahan pangan;

  3. dampak terhadap peningkatan kenyamanan dan pengaruh terhadap budaya makanan populer terhadap home chef; serta

  4. pengamatan konsumen terhadap pengaruh endorsement selebriti




Rangkuman dari laporan, meliputi:



  • Peningkatan dari opsi memasak makanan rumah yang sehat, kenyamanan dari jasa pengantar makanan dan peningkatan pengaruh dari budaya makanan populer. Di Australia, tiga seperempat (78%) dari responden memakan makanan rumah hampir setiap hari. Sementara itu, sekitar 50% konsumen China lebih memilih untuk mengkonsumsi makanan rumah selama seminggu dibandingkan dengan Singapura (40%) dan Korea (34%).

  • Peningkatan para konsumen dalam menggunakan platform digital untuk membeli makanan. Selama dua belas bulan, terdapat pergantian yang terlihat dalam kebiasaan membeli makanan secara online.  Lebih dari tiga seperempat responden di China (76%) dan lebih dari setengah responden di Singapura (58%) serta Korea (52%) mengatakan bahwa mereka meningkatkan pembelian makanan secara online selama setahun terakhir. Di Australia, hampir setengah responden (46%) mengatakan hal yang sama.

  • Media sosial dan makanan memiliki hubungan yang kuat: empat dari sepuluh konsumen di Singapura (40%) dan Korea (42%) serta enam dari sepuluh konsumen di China (62%) memposting tentang pengalaman makanan mereka di media sosial setidaknya satu kali dalam sebulan; 17% dari responden China dan 8% responden Korea juga memposting setidaknya satu kali sehari. Sedangkan, responden dari Australia memiliki aktivitas yang kurang aktif, yaitu hanya 29% dari responden posting dalam sebulan.


“Asia Food Forward Trends Report II menunjukkan bahwa banyaknya kanal sosial dan digital di Asia Pasifik bisa memberikan akses terhadap informasi dan pengalaman yang terus menyebabkan perubahan dalam hubungan konsumen dengan makanan dan cara mereka berhubungan dengan brand makanannya,”  ujar Ian Rumbsby, Kepala Divisi Strategi Asia Pasifik.

Laporan lengkap Asia Pacific Food Forward Trends Report II bisa diakses disini.