indonesian | english
a | a
webershandwick asia pacific



 












Jurnalis di Asia Pasifik berarah ke Digital by Jon Wade
 
   
 
25,07,2014    

Sebuah laporan yang bocor dari New York Times baru-baru ini sekali lagi mencetus sebuah pembahasan seputar bagaimana ruangan berita tradisional yang kian terpengaruhi oleh dunia digital. Walaupun tidak secara spesifik membahas ruangan berita di salah satu media terbesar di dunia itu, namun laporan tersebut tetap menunjukkan hal-hal bagaimana dunia digital terus memberi pengaruh kepada kinerja para wartawan dan para penerbit.

Di Asia, kita tengah melihat bagaimana dunia digital tak hanya berdampak kepada strategi penerbitan digital, namun juga dalam hal bagaimana para jurnalis mengakses, mencari sumber informasi serta memverifikasi berita atau artikel mereka. Sebuah studi baru saja berada di meja saya. Studi yang mensurvei 339 jurnalis di seluruh kawasan Asia Pasifik ini  bertujuan untuk membuat sebuah gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana media online dan sosial terintegrasi dalam kehidupan profesional para jurnalis.

Hasil-hasil penemuan dalam survei tersebut cukup jelas. Walaupun metode-metode PR tradisional seperti siaran pers masih efektif, mempunyai strategi media digital kini juga menjadi penting.

Sebagai contoh, 36 persen dari responden berkata bahwa mereka beralih ke ranah online terlebih terlebih dahulu saat mencoba untuk mencari narasumber atau mencoba untuk memverifikasi berita mereka. Sebagai tambahan, 43 persen mengatakan bahwa mereka secara umum mengambil sumber berita dan memverifikasi dari situs-situs resmi perusahaan. Terlihat jelas, bila para brand ingin cerita mereka ditemukan, mereka harus mempublikasikan cerita-cerita tersebut secara online.

Penemuan lainnya dari survei, dan mungkin penemuan yang paling mengejutkan, mengatakan bahwa jurnalis-jurnalis di kawasan Asia Pasifik begitu terbuka untuk mempublikasikan konten yang dimiliki oleh sebuah brand (brand-owned content). Sebanyak 77 persen mengatakan bahwa perusahaan media tempat mereka bekerja sering atau selalu mempublikasikan konten yang dibuat oleh brand-brand. Sekali lagi, ini merupakan sebuah informasi baik untuk brand-brand. Konten yang bagus akan selalu tersebar dengan baik, terlepas dari mana sumbernya. Dan dengan adanya perubahaan-perubahan dalam jadwal-jadwal publikasi yang terus dipengaruhi oleh sistematika penerbitan digital, waktu yang dimiliki para jurnalis kian terbatas.

Dukungan dalam bentuk konten yang objektif, relevan dan dibuat dengan baik sangat diterima. Apa yang survei ini tunjukkan adalah bahwa secara garis besar brand-brand perlu melakukan adaptasi terhadap kebiasaan-kebiasaan para jurnalis yang telah berubah. Ini berarti mereka perlu membuat, mempublikasikan dan mendistribusikan konten yang asli dan menarik diseluruh properti-properti digital yang mereka miliki.

Pekerjaan para jurnalis kian banyak dengan sumber daya-sumber daya yang kian berkurang. Brand-brand kini berada dalam posisi yang unik untuk menggunakan situasi tersebut sebagai kesempatan dalam membuat strategi penerbitan konten berbasis editorial dan bergerak dari menjadi bagian sebuah berita menjadi pembuat berita tersebut.

Jon Wade adalah head of digital, Asia Pacific, di Weber Shandwick
Artikel ini pertama kali muncul di situs ClickZ