indonesian | english
a | a
webershandwick asia pacific



 












AI – Ready or Not : Menyambut Kecerdasan Buatan by Billy Chailani
 
   
 
   

Perusahaan-perusahaan saat ini menyongsong babak baru dalam era komunikasi – era kecerdasan buatan. Weber Shandwick bermitra dengan KRC Research melakukan studi berjudul AI-Ready or Not: Artificial Intelligence Here We Come!. Studi ini melibatkan konsumen di lima pasar global serta dilengkapi dengan informasi mengenai bagaimana para pemasar menyesuaikan diri dengan perspektif ini.

Kecerdasan buatan secara langsung mengubah bisns. Studi kami menemukan bahwa hampir 7 dari 10 direktur pemasaran melaporkan bahwa perusahaan mereka sedang atau merencanakan bisnis menggunakan kecerdasan buatan. Selain itu, 55% direktur pemasaran mengharapkan dampak kecerdasam buatan yang lebih besar di industri pemasaran dan komunikasi, dibandingkan dengan media sosial.

Karena studi umum mengenai kecerdasan buatan masih sangat minim jumlahnya, Weber Shandwick ingin memperlengkapi para direktur pemasaran dengan wawasan konsumen agar mereka memiliki keunggulan di masa depan. Kami menyimpulkan pembelajaran kami dalam delapan temuan :

  1. Pengetahuan Konsumen Mengenai Kecerdasan Buatan Masih Sangat Dangkal. Dua per tiga dari konsumen global mengakui bahwa mereka mengetahui kecerdasan buatan secara menyeluruh (18%) atau sebagian (48%). Namun, sebagian besar konsumen mengasosiasikan kecerdasan buatan dengan robot dan hanya sedikit yang dapat menyebut brand yang memimpin pasar produk kecerdasan buatan.

  2. Kecerdasan Buatan Dipopulerkan Oleh Media. 80% konsumen mengakui bahwa kesan mereka terhadap kecerdasan buatan berasal dari konsumsi berbagai media. Konsumen optimis mengenai potensi kecerdasan buatan. Konsumen memandang dampak kecerdasan sosial bagi masyarakat sebagai hal yang positif. Lebih jauh lagi, para konsumen tujuh kali lebih yakin bahwa kecerdasan buatan akan memberikan dampak positif bagi kehidupan pribadi mereka.

  3. Konsumen Lebih Yakin Terhadap Ahli dan Pendekatan Personal. Konsumen menyebutkan bahwa uji coba langsung dan peranan ahli serta akademisi di bidang kecerdasan buatan dapat menjadi sumber pengetahuan yang lebih kredibel.

  4. Konsumen Memercayakan Kecerdasan Buatan Untuk Berbagai Hal. Konsumen lebih memercayakan kecerdasan buatan untuk mengingatkan konsumsi obat, memberikan informasi perjalanan, serta menyediakan bahan hiburan. Konsumen masih belum memercayakan sejumlah tugas untuk dilakukan oleh kecerdasan buatan, seperti menerbangkan pesawat, memberikan diagnosa kesehatan dan perawatan anak.

  5. Konsumen Produk Kecerdasan Buatan Sangat Diuntungkan. Konsumen global mengharapkan berbagai manfaat dari penggunaan kecerdasan buatan. Hal yang menjadi prioritas konsumen adalah tugas-tugas yang terlalu berbahaya untuk dilakukan langsung oleh manusia, akses informasi yang lebih mudah, dan penghematan waktu.

  6. Pengetahuan Konsumen Mendorong Optimisme Untuk Kecerdasan Buatan. Semakin banyak pengetahuan konsumen tentang kecerdasan buatan, pandangan mereka terhadap dampak kecerdasan buatan bagi masyarakat dan pribadi akan menjadi lebih positif.

  7. Adopsi Kecerdasan Buatan Menemui Keraguan. Meskipun diterima secara umum, dua per tiga dari konsumen global memiliki kecemasan terhadap kecerdasan buatan meskipun mayoritas dari kecemasan tersebut tergolong moderat (49%). Mayoritas konsumen mencemaskan isu keamanan dan lapangan kerja.

  8. Halangan Utama Bagi Keyakinan Konsumen Terhadap Kecerdasan Buatan : Hilangnya Sejumlah Lapangan Kerja. Sebagian besar konsumen meyakini bahwa sejumlah lapangan kerja akan hilang (82%)


Studi AI-Ready or Not juga berfokus pada AI Vanguard, kelompok konsumen yang kritis dan mendorong penerimaan gerakan kecerdasan buatan. Studi ini ditutup dengan panduan bagi direktur pemasaran dalam menyonsong era kecerdasan buatan.

Klik di sini untuk membaca studi ini. Anda juga dapat mengakses infografis di bawah ini.